http://www.indonesia-monitor.com/main/index.php?option=com_content&task=view&id=2004&Itemid=38
Departemen Perhubungan terus memperketat prosedur penerbangan guna mencapai zero accident (nihil kecelakaan).
KABAR jatuhnya pesawat Aviastar di Wamena, Papua, bagai petir di siang bolong bagi Tubagus Reggie Rachman, 33 tahun. Ayahnya, Tubagus Nimaturachman adalah salah satu dari awak kabin yang tewas bersama lima korban lain yaitu pilot Sigit Triwahyono, kopilot M Lukman Yusuf, teknisi Rahmad Nispudin, serta pramugari Asmarani dan Ida Handayani.
Tanpa pikir panjang, karyawan Qatar Petroleum yang bermukim di Doha, Qatar, itu menuju lokasi jatuhnya pesawat untuk menatap wajah ayahnya untuk terakhir kali. Setelah berembuk lewat telepon, akhirnya keluarga besar Reggie memutuskan memakamkan jenazah ayahnya di Jayawijaya, dekat lokasi kecelakaan pesawat.
Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Perhubungan Bambang Suprijadi Ervan menjelaskan, kecelakaan terjadi ketika pesawat tengah mencari posisi untuk mendekati runway 15 yang akan didaratinya. ”Pesawat go around saat di final ketika akan landing di runway 15. Pesawat belok kanan untuk melakukan pengepasan posisi dan memasuki right base. Di saat itulah, pesawat masuk awan dan beberapa saat kemudian hilang kontak dengan menara pengawas,” ujarnya.
Ditambahkan, petugas di menara pengawas telah berusaha menghubungi pilot saat melihat pesawat yang dibimbingnya hilang. Padahal, seharusnya pesawat sudah berada di tempatnya mendarat. Sayang, tidak ada jawaban sama sekali. Kejadian selanjutnya, “Petugas melihat ada asap membumbung di right base di kawasan Gunung Pike itu,” imbuhnya.
Saat ini, menurut Bambang, tim teknis dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah dikirim untuk menyelidiki akibat kecelakaan tersebut. “KNKT masih butuh waktu untuk membaca black box dan lainnya,” katanya.
Jurubicara KNKT JA Barata menjelaskan, pihaknya mengutus tiga orang investigator ke lokasi yang berjarak antara 5-10 kilometer dari Bandara Wamena tersebut. Mereka adalah Capt. Nurcahyo (Investigator In Charge/IIC), Capt. Chaeruddin, dan Norbertus (teknisi).”Capt. Nurcahyo dan Capt. Chaeruddin, berangkat dari Jakarta. Sedangkan Norbertus langsung menuju lokasi, karena posisinya ada di Papua,” ujar Barata.
Menurut Barata, belum diketahui pasti penyebab jatuhnya pesawat rakitan British Aerospace tahun 1990 yang mengangkut 9 ton bahan bakar avtur dari Sentani, Jayapura, tersebut. Pastinya, seluruh kru yang berada di dalam pesawat tidak ada satu pun yang selamat.
Ditambahkan, informasi cuaca saat itu dalam keadaan berkabut. Kondisi ini membuat jarak pandang pilot menjadi sangat terbatas (visibility minimum). Usai menurunkan kargo yang dibawa di bandara Wamena, pesawat dijadwalkan terbang kembali menuju Jayapura dengan membawa penumpang.
Pesawat bernomor registrasi PK-BRD yang dioperasikan PT Aviastar Mandiri sejak Desember 2007 tersebut merupakan pesawat model BAe 146-300 type B463 dengan empat mesin jet.
Direktur Utama PT Aviastar Mandiri Bayu Sutanto enggan berkomentar ihwal kronologi jatuhnya pesawat. Bayu bilang, pihaknya juga sedang menanti hasil penyelidikan tim KNKT.
Dijelaskan, semua keluarga pilot dan awak kabin pesawat nahas itu yang mengalami musibah telah dihubungi. Semua korban, kecuali almarhum Nimaturachman, telah dibawa ke ibukota. Koordinasi telah dilakukan bersama dengan perusahaan pengangkutan jenazah ke Jakarta.
Terkait road map to zero accident yang dicanangkan Dephub, Bambang mengatakan pihaknya telah membuat regulasi lengkap untuk mencegah terjadinya kecelakaan berbagai alat transportasi, termasuk pesawat terbang. Sebagai misal, audit dan pengawasan ketat bagi semua maskapai penerbangan.
“Jika ditemukan pesawat tidak layak terbang, langsung kami grounded untuk diperiksa. Begitu sebuah maskapai tidak memenuhi persyaratan, otomatis diturunkan kelasnya menjadi kategori 2. Bila masih melakukan pelanggaran, kami akan cabut AOC-nya (Air Operator Certificate/Sertifikat Operator Pesawat Udara),” katanya.
Bambang juga meminta semua maskapai penerbangan agar tidak melanggar prosedur yang telah ditetapkan regulator demi keselamatan nyawa penumpang. “Maskapai juga jangan memaksakan terbang di saat cuaca sedang tidak bersahabat,” imbuhnya.
■ Rega Indra Adhiprana
No comments:
Post a Comment